SUARABERITAINDONESIA.COM
GIANYAR - Inovasi pengolahan sampah berbasis sumber terus berkembang di Bali. Kini, TPS 3R Bumi Sudha Rahayu, Desa Sidan, Kabupaten Gianyar menerapkan teknologi bakteri pengurai untuk mempercepat pengolahan sampah organik menjadi kompos bernilai ekonomis. Untuk itu, Tim Kerja Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Palemahan Kedas (PSBS PADAS) Provinsi Bali meninjau penerapan teknologi bakteri pengurai untuk mempercepat pengolahan sampah organik di TPS 3R Bumi Sudha Rahayu, Desa Sidan, Kabupaten Gianyar, Kamis, 15 Januari 2026. Tim yang hadir antara lain Prof. Dr. Ni Luh Kartini, Dr. Agus Dei, dan Dr. Putu Tuni Cakabawa Landra. Teknologi bakteri pengurai ini disediakan oleh Aiivision Bali.
Founder Aiivision Bali, I Made Wiryanata menyebutkan inovasi tersebut sejalan dengan arahan pemerintah agar pengelolaan sampah diselesaikan di tingkat desa.
Bakteri ini bertugas menghancurkan sampah organik untuk dijadikan kompos yang bermanfaat bagi pertanian. Kami sudah melakukan uji coba selama 1,5 tahun. Awalnya memang ada kendala, namun kini tingkat keberhasilannya sudah 100 persen,” kata Wiryanata di sela-sela kunjungan.
Ia menjelaskan, kunci keberhasilan proses pengomposan terletak pada tahap pencacahan sampah. Sampah organik harus diperkecil ukurannya agar memperluas permukaan kerja bakteri. Selain itu, tingkat kelembapan juga dijaga agar bakteri tetap aktif.
Prosesnya memakan waktu sekitar enam minggu dengan pembalikan tumpukan sampah setiap minggu untuk pemerataan. Hasilnya, tanaman cabai, jagung, dan padi yang menggunakan kompos ini menunjukkan peningkatan hasil panen,” paparnya. Dari sisi biaya, teknologi ini dinilai relatif terjangkau. Satu bungkus bakteri seberat 80 gram seharga Rp 100.000 mampu mengurai hingga 250 kilogram sampah organik.
Metode serupa juga telah diterapkan di Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem, serta Desa Tangguntiti, Kabupaten Tabanan.
Jangan hanya menuntut pemerintah. Warga harus mulai memilah sampah dari rumah untuk memudahkan petugas TPS 3R. Dengan bakteri ini, TPS tidak lagi berkesan kumuh, tapi menjadi tempat produksi pupuk yang menyuburkan tanah Bali yang unsur haranya mulai habis,” kata Wiryanata. Anggota Tim PSBS PADAS Provinsi Bali, Prof. Dr. Ni Luh Kartini, mengapresiasi terobosan pengelolaan sampah yang dilakukan di Desa Sidan.
Menurutnya, penggunaan mesin pencacah yang dikombinasikan dengan bakteri pengurai mampu mempercepat proses fermentasi. Namun demikian, akademisi pertanian organik ini menekankan pentingnya uji laboratorium sebelum kompos digunakan secara luas di lahan pertanian.
Sampah yang tercampur seringkali mengandung logam berat. Ini harus dianalisis dulu. Jika ada logam berat, harus dilakukan bioremediasi atau treatment khusus,” tegas Prof. Kartini.
Ia juga mengingatkan agar penggunaan mikroorganisme dari luar tidak berdampak negatif terhadap keseimbangan mikroorganisme lokal di tanah Bali.
Rekomendasi teknis akan kami berikan setelah melihat hasil uji laboratorium dan menghitung kapasitas kelola mesin dibanding volume sampah yang masuk. Semua harus terukur,” imbuhnya. Kepala Desa Sidan, I Made Sukra Suyasa, menilai inovasi ini memberi manfaat ganda, tidak hanya mengurangi persoalan sampah organik yang mencapai 150 kilogram hingga 3 ton per hari, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi desa.
Ada nilai ekonomisnya. TPS menjual pupuk ke Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) seharga Rp 1.000 per kilogram. Kemudian Bumdes menjual ke petani atau program pertanian organik desa seharga Rp 1.200 per kilogram,” kata Sukra. Ia berharap, keberadaan nilai tambah dari pengolahan sampah ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah, sekaligus mendukung kemandirian desa dalam pengelolaan sampah dan pengembangan pertanian organik. (red)

Posting Komentar untuk "Tim PSBS PADAS Bali Tinjau Inovasi Bakteri Pengolah Sampah di TPS 3R Desa Sidan Ubah Sampah Jadi Kompos Bernilai Ekonomi"