LKKNU Tangsel Gelar Pelatihan Keluarga Maslahah, Perkuat Peran Keluarga dan Organisasi Keagamaan Cegah Perundungan

 


SUARABERITAINDONESIA.COM

TANGERANG – Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Keluarga Maslahah” sebagai upaya strategis mencegah dan menangani kasus perundungan (bullying) yang marak terjadi di kalangan remaja. Kegiatan yang menghadirkan pakar psikologi terkemuka ini menekankan pada penguatan resiliensi keluarga serta optimalisasi peran organisasi keagamaan sebagai garda terdepan dalam menciptakan lingkungan sosial yang aman dan sehat, Tangerang Selatan 23 November 2025 

Acara yang berlangsung di Aula PCNU Tangerang Selatan ini dibuka secara resmi oleh perwakilan tim pengabdi masyarakat (PKM). 

Dalam sambutannya, Dr. Sarwenda, M.A.Pd., selaku ketua program PKM, menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai fenomena perundungan yang kerap terjadi, khususnya di wilayah Tangsel. “Tujuan utama dari kegiatan PKM ini adalah memperkuat resiliensi keluarga melalui peran organisasi keagamaan sebagai aktor strategis dalam pencegahan perundungan,” ujarnya di hadapan para peserta yang terdiri dari pengurus dan anggota LKKNU Tangsel.

Dr. Sarwenda juga memperkenalkan tim PKM yang merupakan kolaborasi lintas universitas, yaitu PTIQ, UNUSIA, dan STIT Al-amin Tangerang. Ia berharap agar LKKNU, sebagai organisasi kemasyarakatan yang memiliki basis massa kuat, dapat mereplikasi model gerakan sosial pencegahan perundungan hingga ke tingkat daerah, dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga, serta lingkungan rumah dan sekolah.

Memahami Hakikat dan Dampak Buruk Perundungan

Sebagai narasumber utama, Dr. Yunita Faela Nisa, M.Psi., Psikolog, dari Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memaparkan materi dengan mendalam dan interaktif. Ia menekankan bahwa perundungan bukanlah hal yang normal dan harus diluruskan dari berbagai mitos yang beredar di masyarakat.

“Perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan berulang dengan tujuan menyakiti, dan yang menjadi target adalah individu yang memiliki kekuatan (power) yang lebih lemah (imbalance of power). Ini sangat berbeda dengan konflik biasa yang melibatkan pihak setara,” jelas Dr. Yunita.

Dosen yang memiliki spesialisasi dalam Psikologi Sosial dan Intervensi Sosial ini membeberkan berbagai bentuk perundungan, mulai dari fisik, verbal, psikis, hingga siber (cyberbullying). Masing-masing bentuk, tegasnya, membawa dampak buruk yang serius, mulai dari luka fisik, susah tidur, kecemasan, menarik diri dari pergaulan, hingga menurunnya prestasi akademik.

Dr. Yunita juga mengidentifikasi ciri-ciri anak yang berpotensi menjadi pelaku perundungan, antara lain bergaul dengan anak yang biasa melakukan kekerasan, serta kurangnya kehangatan dan perhatian dari orang tua. “Sikap orang tua yang suka memberi contoh perilaku perundungan, baik disengaja maupun tidak, juga menjadi faktor pencetus,” tambahnya.

Keluarga Maslahah sebagai Solusi

Solusi jitu yang ditawarkan dalam pelatihan ini adalah pembentukan “Keluarga Maslahah”. Konsep ini merujuk pada keluarga yang tangguh (resilient) dengan ciri-ciri utama: komunikasi yang terbuka, dukungan emosional antaranggota, nilai spiritual dan agama yang kuat, serta penyelesaian masalah melalui musyawarah.

Dr. Yunita menjabarkan pilar-pilar Keluarga Maslahah yang diambil dari nilai-nilai Islam, yaitu:

Zawaj (Berpasangan)

Mitsaqan Ghalizhan (Perjanjian yang Kokoh)

Musyawarah

Taraadhin (Saling Ridha)

Mu’asyarah Bil Ma’ruf (Saling mencintai, menghormati, menjaga, dan berbuat baik)

“Ini sejalan dengan tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW, yaitu untuk menyempurnakan akhlak mulia, yang di dalamnya termasuk menjaga jiwa, harta, keturunan, dan akal.

 Perundungan jelas melanggar semua prinsip ini,” tegasnya.

Membangun Resiliensi: I Am, I Have, I Can

Bagian krusial dari pelatihan adalah pembahasan mengenai resiliensi atau ketahanan diri. Dr. Yunita mendefinisikan resiliensi sebagai seni untuk “bangkit kembali” (the art of bouncing back) atau kemampuan untuk mencapai keberhasilan dalam kondisi penuh tantangan.

Untuk membangun resiliensi, terutama pada anak, diperlukan tiga komponen utama:

I Am: Membantu anak mengenali dan merasa percaya pada kekuatan dirinya sendiri.

I Have: Memastikan anak memiliki sistem pendukung yang terdiri dari keluarga, teman, dan komunitas (seperti LKKNU) yang dapat diandalkan.

I Can: Mengajarkan anak keterampilan memecahkan masalah, mengelola emosi, dan berkomunikasi secara efektif.

Orang tua juga didorong untuk menerapkan pola asuh authoritative, yang menciptakan hubungan positif dengan anak namun tetap menegakkan aturan dengan jelas. Pola asuh ini berbeda dengan pola asuh authoritarian (otoriter) yang kaku, permisif yang memanjakan, ataupun uninvolved (tidak terlibat).


Langkah Konkret dan Penutup

Dr. Yunita memberikan langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan keluarga jika menghadapi kasus perundungan, seperti membangun rasa empati, mengajarkan anak untuk melaporkan, serta tidak ragu mencari bantuan ke sekolah, pihak berwajib (untuk kasus berat), atau profesional seperti psikolog dan konselor.


Kegiatan yang dihadiri dengan antusias oleh ibu-ibu pengurus LKKNU Tangsel ini diharapkan menjadi trigger untuk aksi nyata. Melalui pemahaman yang komprehensif tentang perundungan dan penguatan peran Keluarga Maslahah, LKKNU Tangsel berkomitmen untuk menjadi agen perubahan yang mampu menekan angka perundungan dan menciptakan ekosistem sosial yang lebih maslahat bagi tumbuh kembang generasi muda.

( Achmad Hidayat )

Posting Komentar untuk "LKKNU Tangsel Gelar Pelatihan Keluarga Maslahah, Perkuat Peran Keluarga dan Organisasi Keagamaan Cegah Perundungan"